Perawatan Bayi

Kenali Tanda Bayi Lapar dan Kenyang agar Waktu Menyusu Lebih Nyaman

Memahami tanda bayi lapar merupakan salah satu keterampilan penting yang dapat dipelajari orang tua sejak hari-hari pertama kehidupan bayi. Meskipun bayi belum dapat berbicara, mereka sebenarnya sudah menggunakan gerakan tubuh, ekspresi, dan suara untuk menunjukkan kapan ingin menyusu serta kapan sudah merasa cukup.

Namun, tidak semua tangisan berarti bayi lapar. Sebaliknya, menangis sering menjadi tanda lapar yang sudah terlambat. Sebelum menangis, sebagian besar bayi biasanya memperlihatkan beberapa isyarat yang lebih halus, seperti menggerakkan kepala ke arah payudara atau botol, memasukkan tangan ke mulut, hingga menjilat bibir.

Karena itu, mengenali isyarat sejak awal dapat membuat proses menyusu terasa lebih tenang. Selain itu, orang tua tidak harus selalu terpaku pada jam karena kebutuhan setiap bayi dapat berbeda.

Pendekatan seperti ini dikenal sebagai responsive feeding atau pemberian makan secara responsif. Artinya, orang tua memperhatikan tanda lapar dan kenyang bayi, kemudian memberikan respons yang sesuai.

Mengapa Penting Mengenali Tanda Bayi Lapar?

Bayi memiliki cara tersendiri untuk berkomunikasi. Oleh karena itu, memperhatikan perilaku bayi dapat membantu orang tua mengetahui kapan waktu yang tepat untuk menawarkan ASI atau susu.

Ketika tanda lapar dikenali lebih awal, bayi biasanya masih berada dalam keadaan relatif tenang. Dengan demikian, proses pelekatan pada payudara atau menerima botol dapat menjadi lebih mudah dibandingkan ketika bayi sudah menangis keras.

Selain itu, pemberian makan secara responsif membantu orang tua memahami bahwa kebutuhan bayi tidak selalu sama dari satu sesi ke sesi berikutnya. Misalnya, bayi terkadang ingin menyusu lebih sering pada periode tertentu.

Sebaliknya, pada waktu lain, bayi mungkin menyusu sedikit lebih lama lalu beristirahat lebih panjang. Karena itu, pola menyusu tidak harus selalu identik setiap hari.

CDC menjelaskan bahwa memahami tanda lapar dan kenyang membantu pengasuh menentukan kapan serta seberapa sering bayi perlu diberi makan.

Tanda Awal Bayi Mulai Lapar

Sebelum menangis, bayi biasanya memberikan beberapa isyarat. Namun, setiap bayi dapat menunjukkan kombinasi tanda yang berbeda.

1. Memasukkan Tangan ke Mulut

Salah satu tanda bayi lapar yang umum adalah membawa tangan menuju mulut. Bayi mungkin mulai mengisap jari atau kepalan tangannya.

Namun, mengisap tangan tidak selalu berarti lapar. Bayi juga dapat melakukannya untuk menenangkan diri atau sebagai bagian dari perkembangan normal.

Karena itu, orang tua sebaiknya memperhatikan tanda lain yang muncul bersamaan.

2. Menggerakkan Kepala Mencari Payudara atau Botol

Selanjutnya, bayi dapat menggerakkan kepala ke samping seolah mencari sumber makanan. Perilaku ini sering disebut rooting.

Misalnya, ketika pipinya menyentuh tubuh orang tua, bayi mungkin memutar kepala dan membuka mulut. Oleh karena itu, perilaku tersebut dapat menjadi kesempatan untuk menawarkan menyusu sebelum bayi menjadi terlalu gelisah.

3. Menjilat atau Mengecap Bibir

Bayi yang mulai lapar juga dapat menjilat, mengecap, atau mengerucutkan bibir. Selain itu, mulutnya mungkin terlihat membuat gerakan seperti sedang mengisap.

Karena tandanya relatif halus, orang tua mungkin tidak langsung menyadarinya pada minggu-minggu pertama. Namun, seiring waktu, pola bayi biasanya akan semakin mudah dikenali.

4. Tangan Tampak Mengepal

CDC juga mencantumkan tangan yang mengepal sebagai salah satu tanda yang dapat muncul ketika bayi usia lahir hingga sekitar lima bulan sedang lapar.

Sementara itu, ketika sudah kenyang, tangan bayi dapat terlihat lebih santai. Namun, satu tanda saja tidak cukup untuk menentukan kondisi bayi.

Oleh sebab itu, sebaiknya lihat keseluruhan perilaku bayi.

5. Bayi Menjadi Lebih Aktif

Selain tanda tersebut, sebagian bayi terlihat lebih aktif menjelang waktu menyusu. Misalnya, bayi mulai menggeliat, menggerakkan tangan dan kaki, atau tampak semakin terjaga.

Kemudian, apabila kebutuhan tersebut belum terpenuhi, bayi dapat menjadi semakin gelisah.

Menangis Adalah Tanda Lapar yang Terlambat

Banyak orang tua baru menunggu bayi menangis sebelum menawarkan susu. Padahal, CDC dan American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa menangis sering kali merupakan tanda lapar yang sudah terlambat.

Ketika bayi sudah menangis keras, proses menyusu terkadang menjadi lebih sulit. Sebab, bayi perlu ditenangkan terlebih dahulu sebelum dapat melekat pada payudara atau menerima botol dengan nyaman.

Oleh karena itu, cobalah mengenali tanda-tanda sebelumnya. Namun, jangan langsung menyimpulkan setiap tangisan sebagai rasa lapar.

Bayi dapat menangis karena berbagai alasan. Misalnya, popoknya basah, tubuhnya terlalu panas, merasa lelah, ingin digendong, perlu bersendawa, atau sekadar membutuhkan kenyamanan.

Dengan demikian, tangisan perlu dilihat bersama konteks dan perilaku lain.

Bagaimana Mengetahui Bayi Sudah Kenyang?

Sama seperti lapar, bayi juga memiliki cara untuk mengatakan bahwa ia sudah cukup minum. Karena itu, mengenali tanda bayi kenyang sama pentingnya dengan mengenali tanda lapar.

Tujuannya bukan memastikan bayi menghabiskan jumlah tertentu setiap kali menyusu. Sebaliknya, orang tua belajar memperhatikan kapan bayi menunjukkan bahwa kebutuhan saat itu sudah terpenuhi.

1. Menutup Mulut

Salah satu tanda sederhana adalah bayi menutup mulut ketika payudara atau botol kembali ditawarkan.

Jika perilaku tersebut muncul bersama tanda kenyang lainnya, bayi mungkin sudah selesai menyusu.

2. Memalingkan Kepala

Selanjutnya, bayi dapat memalingkan wajah dari payudara atau botol. Perilaku ini merupakan salah satu tanda kenyang yang disebutkan CDC.

Karena itu, hindari terus mengarahkan botol atau payudara ke mulut bayi apabila bayi sudah berulang kali berpaling dan terlihat nyaman.

3. Mengisap Lebih Lambat atau Berhenti

Saat lapar, bayi biasanya melakukan gerakan mengisap dan menelan secara aktif. Namun, menjelang akhir sesi, pola tersebut dapat melambat.

Kemudian, bayi mungkin berhenti mengisap dengan sendirinya.

Walaupun demikian, bayi baru lahir yang terlalu mengantuk juga dapat berhenti menyusu sebelum mendapat asupan yang cukup. Oleh karena itu, apabila bayi terus-menerus sulit dibangunkan untuk menyusu atau sesi menyusunya selalu sangat singkat, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

4. Tangan Menjadi Lebih Rileks

Tangan yang sebelumnya mengepal dapat menjadi lebih terbuka dan santai setelah bayi merasa cukup.

Namun, sekali lagi, orang tua sebaiknya tidak menggunakan satu gerakan sebagai satu-satunya patokan. Sebaliknya, lihat beberapa tanda sekaligus.

5. Tampak Tenang Setelah Menyusu

Setelah mendapatkan cukup susu, sebagian bayi terlihat lebih rileks dan tenang.

Namun, keadaan ini juga bervariasi. Karena itu, jangan khawatir apabila bayi Anda tidak selalu langsung tidur setelah menyusu.

Jangan Memaksa Bayi Menghabiskan Botol

Ketika memberi ASI perah atau susu formula melalui botol, orang tua mungkin tergoda meminta bayi menghabiskan seluruh isi botol. Namun, CDC menyarankan untuk berhenti ketika bayi menunjukkan tanda kenyang, meskipun masih terdapat susu di dalam botol.

Selain itu, botol dapat dipegang dengan posisi miring sehingga aliran susu tidak terlalu cepat. Kemudian, berikan kesempatan kepada bayi untuk berhenti sejenak ketika ia terlihat membutuhkan jeda.

Pendekatan ini membantu pengasuh mengikuti ritme bayi. Sebaliknya, memaksa bayi terus minum setelah menunjukkan tanda kenyang dapat membuat bayi menerima lebih banyak daripada yang ia butuhkan.

Selain itu, jangan menyangga botol dan meninggalkannya sendiri di mulut bayi. Bayi sebaiknya tetap digendong serta diawasi selama minum dari botol.

Seberapa Sering Bayi Perlu Menyusu?

Tidak ada satu jadwal yang tepat untuk setiap bayi. Sebab, usia, ukuran tubuh, perkembangan, dan cara pemberian susu dapat memengaruhi frekuensi menyusu.

Pada hari-hari pertama, bayi yang mendapatkan ASI mungkin ingin menyusu setiap satu hingga tiga jam. Kemudian, selama minggu-minggu awal, banyak bayi menyusu sekitar delapan hingga dua belas kali dalam 24 jam.

Meskipun demikian, pola setiap bayi berbeda. Oleh karena itu, angka tersebut sebaiknya dipahami sebagai gambaran umum, bukan aturan bahwa bayi harus menyusu tepat pada jam tertentu.

Selain itu, ada periode ketika bayi ingin menyusu berkali-kali dalam waktu berdekatan. Pola seperti ini sering disebut cluster feeding.

Karena itu, menyusu lebih sering pada waktu tertentu tidak otomatis berarti produksi ASI tidak cukup.

Apakah Sering Menangis Berarti Bayi Kurang ASI?

Belum tentu. UNICEF menjelaskan bahwa bayi yang rewel atau menangis tidak otomatis berarti tidak mendapatkan cukup susu.

Sebaliknya, penilaian asupan perlu mempertimbangkan beberapa hal. Misalnya, tenaga kesehatan dapat melihat pertumbuhan berat badan, proses menelan ketika menyusu, frekuensi menyusu, kondisi bayi, dan jumlah popok basah.

Pada bayi yang mendapatkan ASI, CDC menyebut bahwa pada sekitar hari kelima kehidupan, enam atau lebih popok basah sehari merupakan salah satu tanda yang membantu menunjukkan asupan yang cukup.

Namun, pola popok berubah sesuai usia. Selain itu, penilaian berat badan tetap sangat penting.

Karena itu, jangan menggunakan durasi menyusu saja untuk menentukan apakah bayi mendapatkan cukup susu. Sebagian bayi menyusu dengan efisien dalam waktu yang relatif singkat, sedangkan bayi lain membutuhkan waktu lebih panjang.

Bagaimana Mengetahui Bayi Mendapatkan Cukup ASI?

Selain memperhatikan tanda kenyang, beberapa indikator lain dapat membantu.

Pertama, bayi biasanya terdengar atau terlihat menelan ketika menyusu secara aktif. Selanjutnya, bayi yang mendapatkan cukup asupan umumnya akan mengalami perkembangan berat badan sesuai yang dipantau tenaga kesehatan.

Selain itu, jumlah urine dan tinja memberikan informasi tambahan, terutama selama hari-hari pertama kehidupan.

Namun, berat badan tetap merupakan indikator yang lebih objektif. Karena itu, pemeriksaan bayi sesuai jadwal sangat penting, khususnya setelah pulang dari rumah sakit atau fasilitas kesehatan.

Responsive Feeding Membantu Mengikuti Kebutuhan Bayi

WHO menjelaskan responsive feeding sebagai pendekatan ketika pengasuh mengenali serta merespons tanda lapar dan kenyang anak secara sesuai.

Dengan kata lain, orang tua menyediakan makanan atau susu, sedangkan bayi memberikan informasi mengenai kapan ia lapar serta kapan sudah cukup.

Selain itu, respons sebaiknya dilakukan dengan tenang dan mendukung. Misalnya, ketika bayi memperlihatkan tanda lapar, orang tua dapat menawarkan susu. Kemudian, ketika tanda kenyang muncul, sesi dapat dihentikan.

Pendekatan tersebut dapat digunakan ketika menyusui langsung, memberi susu menggunakan botol, dan nantinya ketika anak memasuki tahap makanan pendamping.

Tanda Lapar Akan Berubah Seiring Pertumbuhan

Tanda lapar bayi baru lahir berbeda dengan bayi yang sudah mulai makan makanan pendamping.

Pada usia sekitar enam bulan atau ketika sudah mulai MPASI sesuai kesiapan dan arahan tenaga kesehatan, bayi dapat mulai membuka mulut ketika sendok ditawarkan, menunjukkan ketertarikan pada makanan, atau mengulurkan tangan.

Sebaliknya, ketika sudah cukup makan, bayi mungkin menutup mulut, memalingkan kepala, atau mendorong makanan menjauh.

Oleh karena itu, orang tua perlu terus menyesuaikan cara membaca isyarat seiring pertumbuhan bayi.

Jangan Selalu Menggunakan Susu untuk Menenangkan Bayi

Ketika bayi menangis, menyusu memang dapat memberikan kenyamanan. Namun, rasa lapar bukan satu-satunya penyebab bayi membutuhkan perhatian.

Karena itu, setelah bayi baru saja menyusu dan masih rewel, periksa kebutuhan lain. Misalnya, apakah perlu mengganti popok, bersendawa, tidur, atau sekadar dipeluk.

Selain itu, bayi juga dapat mengisap untuk menenangkan diri. Dengan demikian, aktivitas mengisap tidak selalu berarti tubuhnya membutuhkan tambahan susu.

Semakin sering orang tua memperhatikan bayi, biasanya semakin mudah membedakan pola-pola tersebut.

Kesalahan Umum Saat Membaca Tanda Bayi Lapar

Menunggu Sampai Bayi Menangis

Pertama, menunggu tangisan dapat membuat bayi sudah terlalu gelisah ketika waktu menyusu dimulai.

Karena itu, perhatikan tanda awal seperti gerakan mencari, tangan menuju mulut, dan gerakan bibir.

Menganggap Setiap Isapan sebagai Tanda Lapar

Selanjutnya, bayi dapat mengisap tangan untuk kenyamanan. Oleh sebab itu, lihat apakah terdapat isyarat lapar lainnya.

Memaksa Botol Harus Kosong

Kemudian, jumlah susu yang tersisa di botol bukan alasan untuk memaksa bayi terus minum.

Sebaliknya, berhentilah jika bayi telah memberikan tanda kenyang yang jelas.

Membandingkan dengan Bayi Lain

Setiap bayi memiliki pola makan yang berbeda. Karena itu, durasi dan frekuensi menyusu bayi teman atau saudara tidak harus sama dengan bayi Anda.

Lebih baik pantau pola bayi sendiri bersama pertumbuhan serta evaluasi tenaga kesehatan.

Kapan Orang Tua Perlu Berkonsultasi?

Meskipun variasi pola menyusu sangat luas, beberapa keadaan memerlukan perhatian tenaga kesehatan.

Segera konsultasikan apabila bayi baru lahir berulang kali terlalu mengantuk untuk menyusu, sulit melekat, tidak terdengar menelan, atau terus menolak makan.

Selain itu, perhatian medis diperlukan apabila jumlah urine tampak jauh berkurang, bayi terus kehilangan berat badan setelah hari-hari pertama, atau kulit terlihat semakin kuning.

Pada bayi yang menyusu langsung, CDC menyebut kesulitan mempertahankan pelekatan, suara klik berulang ketika menyusu, serta frekuensi menyusu yang terlalu sedikit sebagai beberapa tanda yang patut dievaluasi.

Sementara itu, bayi yang tampak lemas, mengalami kesulitan bernapas, muntah berulang, atau mengalami perubahan kondisi yang mencolok sebaiknya segera dinilai tenaga kesehatan.

Karena kondisi setiap bayi berbeda, dokter anak, bidan, perawat, atau konsultan laktasi dapat membantu menilai penyebabnya secara lebih tepat.

Tips Membuat Waktu Menyusu Lebih Nyaman

Pertama, usahakan mulai menyusui ketika tanda lapar awal muncul. Dengan demikian, bayi belum terlalu gelisah.

Selanjutnya, pilih posisi yang nyaman bagi bayi dan orang tua. Jika menyusui langsung, pastikan pelekatan terasa nyaman serta bayi dapat mengisap dan menelan dengan baik.

Selain itu, kurangi gangguan yang tidak diperlukan selama sesi menyusu. Suasana tenang dapat membantu orang tua lebih mudah memperhatikan bahasa tubuh bayi.

Kemudian, biarkan bayi mengambil jeda. Tidak semua sesi perlu berlangsung dengan ritme yang sama.

Terakhir, perhatikan perubahan pola. Apabila terdapat perubahan besar yang disertai bayi tampak sakit atau pertumbuhannya menjadi perhatian, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Kesimpulan

Mengenali tanda bayi lapar dan kenyang membantu orang tua merespons kebutuhan bayi dengan lebih tenang. Tanda awal lapar dapat berupa memasukkan tangan ke mulut, menggerakkan kepala ke arah payudara atau botol, mengecap bibir, serta mengepalkan tangan.

Sementara itu, bayi yang kenyang dapat memperlambat atau menghentikan isapan, menutup mulut, memalingkan kepala, dan membuat tangannya lebih rileks.

Namun, satu gerakan tidak selalu mempunyai satu arti. Karena itu, lihat beberapa tanda sekaligus dan perhatikan pola bayi dari hari ke hari.

Selain itu, hindari memaksa bayi menghabiskan botol ketika tanda kenyang sudah muncul. Sebaliknya, ikuti prinsip responsive feeding dengan menawarkan susu ketika bayi menunjukkan tanda lapar dan menghentikan sesi ketika ia menunjukkan bahwa sudah cukup.

Pada akhirnya, setiap bayi mempunyai ritme yang unik. Dengan mengenali bahasa tubuhnya secara perlahan, waktu menyusu dapat menjadi lebih nyaman sekaligus membantu orang tua memahami kebutuhan bayi dengan lebih baik.

Anda mungkin juga suka...