Mendukung tumbuh kembang anak tidak selalu membutuhkan aktivitas rumit atau perlengkapan mahal.
Sebaliknya, banyak hal sederhana yang dilakukan secara konsisten setiap hari dapat membantu menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan, pembelajaran, serta perkembangan anak.
Oleh karena itu, membangun tumbuh kembang anak yang optimal sebaiknya dimulai dari kebiasaan sehari-hari di rumah.
Selain memenuhi kebutuhan nutrisi, anak juga membutuhkan tidur yang cukup, kesempatan bergerak, waktu bermain, komunikasi, rasa aman, serta hubungan yang hangat dengan orang tua atau pengasuh.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention atau CDC, perkembangan sehat berkaitan dengan terpenuhinya kebutuhan sosial, emosional, kesehatan, serta pendidikan anak.
Selain itu, CDC menekankan pentingnya rumah yang aman dan penuh kasih, serta aktivitas keluarga seperti bermain, bernyanyi, membaca, dan berbicara bersama anak.
Sementara itu, UNICEF menjelaskan bahwa perkembangan anak sejak usia dini juga membutuhkan kesehatan, nutrisi, perlindungan, kesempatan belajar, dan responsive caregiving.
Karena itu, rutinitas kecil yang dilakukan secara konsisten dapat mempunyai peran besar dalam kehidupan anak.
Berikut berbagai kebiasaan sehari-hari yang dapat membantu mendukung tumbuh kembang anak secara lebih optimal.
1. Biasakan Anak Memulai Hari dengan Rutinitas yang Teratur
Rutinitas membantu anak memahami apa yang akan terjadi dalam kesehariannya.
Sebagai contoh, anak dapat terbiasa bangun, membersihkan diri, berpakaian, sarapan, kemudian memulai aktivitas.
Selain itu, rutinitas yang relatif konsisten dapat memberikan rasa aman karena kegiatan menjadi lebih mudah diprediksi.
CDC memasukkan rutinitas rumah sebagai salah satu praktik pengasuhan yang dapat mendukung perkembangan sehat.
Oleh karena itu, orang tua tidak harus membuat jadwal yang sangat ketat.
Sebaliknya, buat urutan aktivitas sederhana yang sesuai dengan kebutuhan keluarga.
Misalnya, setelah bangun anak merapikan tempat tidur bersama orang tua.
Kemudian, anak membersihkan diri sebelum sarapan.
Dengan demikian, aktivitas sehari-hari juga dapat digunakan untuk mengenalkan kemandirian secara bertahap.
2. Biasakan Sarapan dan Pola Makan yang Teratur
Nutrisi merupakan bagian penting dalam pertumbuhan fisik anak.
Selain itu, kebutuhan nutrisi juga berkaitan dengan aktivitas dan perkembangan tubuh.
Oleh karena itu, orang tua dapat membangun jadwal makan yang relatif teratur.
Kemudian, berikan makanan yang bervariasi sesuai usia dan kebutuhan anak.
Selain sumber karbohidrat, menu sehari-hari dapat dilengkapi sumber protein, sayuran, buah, serta bahan makanan lain yang sesuai.
Namun, kebutuhan makan setiap anak dapat berbeda berdasarkan usia, kondisi kesehatan, aktivitas, dan pertumbuhan.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya membandingkan porsi makan anak dengan anak lain.
Sebaliknya, pemantauan pertumbuhan secara berkala tetap penting.
Jika terdapat kekhawatiran mengenai pertumbuhan atau pola makan, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan langkah yang tepat.
3. Jadikan Air Putih sebagai Minuman Utama
Selain makanan, kebutuhan cairan juga perlu diperhatikan.
Oleh karena itu, biasakan anak mengenal air putih sejak usia yang sesuai.
Kemudian, sediakan air yang mudah dijangkau oleh anak yang sudah cukup besar untuk minum secara mandiri.
Selain itu, kebiasaan membawa botol minum ketika bepergian dapat membantu anak mengingat kebutuhan cairannya.
Sementara itu, minuman dengan kandungan gula tinggi sebaiknya tidak menjadi pilihan utama sehari-hari.
Dengan demikian, anak dapat mengenal pola minum yang lebih sederhana sejak dini.
Namun, kebutuhan cairan dapat berubah berdasarkan usia, aktivitas, cuaca, dan kondisi kesehatan.
Karena itu, perhatian orang tua tetap diperlukan.
4. Berikan Kesempatan Anak Bergerak Setiap Hari
Anak membutuhkan kesempatan untuk bergerak.
Selain mendukung kebugaran, aktivitas fisik juga memberikan kesempatan untuk melatih berbagai keterampilan motorik.
WHO merekomendasikan anak di bawah lima tahun mendapatkan aktivitas fisik yang sesuai usianya sepanjang hari.
Untuk anak usia satu sampai dua tahun, WHO merekomendasikan setidaknya 180 menit berbagai aktivitas fisik yang tersebar sepanjang hari.
Sementara itu, anak usia tiga sampai empat tahun juga dianjurkan mendapatkan setidaknya 180 menit aktivitas, dengan setidaknya 60 menit di antaranya berupa aktivitas intensitas sedang hingga berat.
Kemudian, untuk anak dan remaja usia 5–17 tahun, WHO merekomendasikan rata-rata sedikitnya 60 menit aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat per hari sepanjang minggu.
Namun, aktivitas tersebut tidak harus selalu berupa olahraga formal.
Sebaliknya, bermain bola, berlari, berjalan, menari, melompat, bermain di taman, serta aktivitas aktif lainnya juga dapat menjadi bagian dari rutinitas.
5. Biasakan Bermain Aktif di Luar Ruangan
Permainan outdoor memberikan ruang yang lebih luas bagi anak untuk bergerak.
Selain itu, lingkungan luar dapat memberikan pengalaman sensorik serta kesempatan eksplorasi yang berbeda dari aktivitas di dalam rumah.
Oleh karena itu, jika kondisi memungkinkan, berikan waktu bagi anak untuk bermain di luar.
Misalnya, anak dapat berjalan bersama keluarga.
Selain itu, anak dapat bermain bola, bersepeda, menggambar menggunakan kapur, atau mengeksplorasi halaman.
Kemudian, orang tua dapat ikut bermain agar aktivitas terasa lebih menyenangkan.
Namun, keamanan tetap harus menjadi prioritas.
Karena itu, pilih area yang aman, sesuaikan permainan dengan usia, serta gunakan perlengkapan keselamatan apabila diperlukan.
6. Jadikan Membaca Buku sebagai Kebiasaan Harian
Membacakan buku merupakan kegiatan sederhana yang dapat dilakukan sejak anak masih kecil.
Selain memperkenalkan berbagai kata, kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi anak dan orang tua untuk berinteraksi.
CDC merekomendasikan berbagi buku dan berbicara bersama anak sebagai bagian dari praktik pengasuhan positif.
Selain itu, WHO juga menekankan bahwa kegiatan sedentari berkualitas seperti membaca dan bercerita bersama pengasuh penting bagi perkembangan anak.
Oleh karena itu, sediakan waktu membaca secara rutin.
Misalnya, buku dapat dibaca sebelum tidur.
Kemudian, orang tua dapat menunjuk gambar serta menyebutkan namanya.
Untuk anak yang lebih besar, berikan pertanyaan sederhana mengenai cerita.
Dengan demikian, aktivitas membaca menjadi kegiatan interaktif, bukan hanya mendengarkan.
7. Sering Ajak Anak Berbicara
Kemampuan bahasa berkembang melalui interaksi.
Oleh karena itu, berbicara dengan anak dapat menjadi bagian dari hampir seluruh aktivitas sehari-hari.
Misalnya, ketika menyiapkan makanan, orang tua dapat menyebut nama bahan makanan.
Kemudian, ketika berjalan keluar rumah, orang tua dapat membicarakan kendaraan, tanaman, warna, atau benda yang terlihat.
Selain itu, berikan kesempatan anak menjawab.
Jangan selalu terburu-buru menyelesaikan kalimat anak.
Sebaliknya, dengarkan serta berikan waktu yang cukup untuk merespons.
UNICEF menekankan pentingnya komunikasi dan responsive caregiving untuk perkembangan kemampuan motorik, kognitif-bahasa, serta sosial-emosional.
Karena itu, percakapan sehari-hari dapat menjadi bentuk stimulasi yang sangat sederhana.
8. Dengarkan Anak dan Respons dengan Hangat
Komunikasi bukan hanya soal orang tua berbicara.
Sebaliknya, anak juga membutuhkan kesempatan untuk didengarkan.
Oleh karena itu, perhatikan ketika anak mencoba menunjukkan sesuatu, mengeluarkan suara, bertanya, atau menceritakan pengalaman.
Kemudian, berikan respons yang sesuai.
Pada bayi, respons dapat berupa senyuman, tatapan mata, atau membalas suara yang dibuat bayi.
Sementara itu, pada anak yang lebih besar, respons dapat berupa percakapan sederhana.
UNICEF menjelaskan responsive caregiving sebagai kemampuan pengasuh memperhatikan, memahami, dan merespons sinyal anak secara tepat.
Dengan demikian, anak belajar bahwa komunikasi mereka mendapatkan tanggapan dari orang yang berada di sekitarnya.
9. Luangkan Waktu Bermain Bersama Anak
Permainan merupakan salah satu cara anak belajar.
Selain memberikan kesenangan, bermain dapat melibatkan kemampuan motorik, bahasa, kognitif, sosial, serta emosional.
Karena itu, luangkan waktu untuk bermain bersama anak.
Tidak selalu dibutuhkan mainan mahal.
Sebaliknya, balok sederhana, bola, kertas, krayon, kardus, atau benda sehari-hari yang aman sudah dapat menghasilkan banyak kegiatan.
Kemudian, sesekali biarkan anak menentukan arah permainan.
Misalnya, anak dapat memutuskan bahwa kardus menjadi mobil atau rumah.
Dengan demikian, orang tua tidak perlu mengatur setiap detail permainan.
Sebaliknya, mereka dapat mengikuti ide anak sambil menjaga aktivitas tetap aman.
10. Biasakan Anak Melakukan Aktivitas Mandiri Sesuai Usia
Kemandirian berkembang secara bertahap.
Oleh karena itu, anak dapat diberikan tugas sederhana berdasarkan kemampuan.
Misalnya, anak dapat membantu memasukkan mainan ke kotaknya.
Kemudian, ketika lebih besar, anak dapat mencoba memakai pakaian, menyimpan barang, atau membantu menyiapkan meja.
Namun, jangan mengharapkan hasil sebaik orang dewasa.
Sebaliknya, fokus pada proses belajar.
Selain itu, berikan bantuan ketika anak memang membutuhkannya.
Dengan demikian, anak memperoleh kesempatan mencoba tanpa merasa harus selalu sempurna.
Kegiatan sehari-hari seperti ini juga dapat melibatkan keterampilan motorik, pemecahan masalah, serta tanggung jawab sederhana.
11. Berikan Kesempatan Anak Berinteraksi dengan Orang Lain
Perkembangan sosial juga membutuhkan pengalaman.
Oleh karena itu, anak dapat diberikan kesempatan berinteraksi dengan keluarga serta anak lain dalam situasi yang aman.
Misalnya, anak dapat bermain bersama saudara.
Selain itu, anak dapat mengikuti aktivitas kelompok sesuai usia.
Kemudian, orang tua dapat membantu anak belajar menunggu giliran, berbagi, serta menyampaikan keinginan dengan cara yang sesuai.
Namun, kemampuan sosial berkembang secara bertahap.
Karena itu, anak kecil tidak selalu langsung mampu berbagi atau bermain bersama dengan lancar.
Sebaliknya, pengalaman berulang dan contoh dari orang dewasa membantu anak belajar dari waktu ke waktu.
12. Ajarkan Anak Mengenali Emosi
Perasaan merupakan bagian normal dari kehidupan anak.
Oleh karena itu, orang tua dapat membantu anak mengenali dan menyebut emosi.
Misalnya, ketika anak kecewa, orang tua dapat menjelaskan bahwa ia sedang merasa sedih atau kecewa.
Kemudian, ketika anak senang, orang tua juga dapat menyebut perasaan tersebut.
Dengan demikian, anak secara perlahan mempunyai kosakata untuk memahami apa yang dirasakannya.
Selain itu, orang tua dapat menunjukkan cara menghadapi emosi dengan tenang.
Namun, mengajarkan pengelolaan emosi bukan berarti melarang anak menangis atau sedih.
Sebaliknya, bantu anak memahami perasaan sambil tetap menetapkan batas perilaku yang aman.
13. Pertahankan Jadwal Tidur yang Konsisten
Tidur merupakan bagian penting dari rutinitas anak.
WHO memberikan rekomendasi durasi tidur berdasarkan kelompok usia untuk anak di bawah lima tahun.
Bayi usia 0–3 bulan membutuhkan sekitar 14–17 jam tidur dalam sehari.
Sementara itu, bayi usia 4–11 bulan membutuhkan sekitar 12–16 jam termasuk tidur siang.
Kemudian, anak usia satu sampai dua tahun membutuhkan sekitar 11–14 jam.
Selanjutnya, anak usia tiga sampai empat tahun membutuhkan sekitar 10–13 jam tidur, yang dapat termasuk tidur siang.
Selain durasi, WHO juga menekankan kualitas tidur serta waktu tidur dan bangun yang teratur.
Oleh karena itu, orang tua dapat membuat rutinitas menjelang tidur.
Misalnya, anak membersihkan diri, mengenakan pakaian tidur, membaca buku, kemudian tidur.
Dengan demikian, tubuh anak mendapatkan pola yang lebih konsisten.
14. Kurangi Aktivitas Layar yang Menggantikan Bermain dan Tidur
Perangkat digital menjadi bagian dari kehidupan modern.
Namun, penggunaan layar sebaiknya tidak menggantikan aktivitas penting seperti bermain, bergerak, berbicara dengan keluarga, atau tidur.
WHO menyatakan bahwa sedentary screen time tidak direkomendasikan untuk anak usia satu tahun.
Sementara itu, untuk anak usia dua tahun, waktu layar sedentari disarankan tidak lebih dari satu jam per hari dan lebih sedikit lebih baik.
Kemudian, untuk anak usia tiga sampai empat tahun, WHO juga merekomendasikan tidak lebih dari satu jam per hari dan lebih sedikit lebih baik.
Selain itu, ketika anak sedang melakukan aktivitas tenang, WHO mendorong kegiatan bersama pengasuh seperti membaca atau bercerita.
Oleh karena itu, fokus utama bukan sekadar menghitung menit layar.
Sebaliknya, pastikan layar tidak mengambil waktu dari aktivitas penting lainnya.
15. Biasakan Makan Bersama Keluarga Jika Memungkinkan
Waktu makan dapat menjadi kesempatan untuk berinteraksi.
Selain makan, orang tua dapat menggunakan waktu tersebut untuk berbicara mengenai kegiatan hari itu.
Kemudian, anak dapat belajar mengikuti rutinitas makan keluarga.
Namun, suasana makan sebaiknya dibuat nyaman.
Sebaliknya, hindari menjadikan setiap waktu makan sebagai sumber tekanan.
Selain itu, anak dapat dilibatkan dalam aktivitas sederhana sesuai usia.
Misalnya, anak dapat membantu membawa serbet atau memilih buah.
Dengan demikian, waktu makan tidak hanya berkaitan dengan nutrisi.
Sebaliknya, kegiatan tersebut juga dapat menjadi kesempatan membangun rutinitas keluarga.
16. Jadikan Kebersihan Diri sebagai Rutinitas
Kebiasaan menjaga kebersihan dapat mulai dikenalkan secara bertahap.
Misalnya, anak dapat belajar mencuci tangan.
Kemudian, anak dapat diperkenalkan pada rutinitas menyikat gigi serta mandi sesuai usia dan kebutuhan.
Selain itu, orang tua dapat memberikan contoh secara langsung.
Dengan demikian, anak melihat bahwa menjaga kebersihan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Namun, kemampuan melakukan aktivitas tersebut secara mandiri membutuhkan waktu.
Karena itu, pengawasan dan bantuan tetap diperlukan berdasarkan usia anak.
17. Berikan Pujian pada Usaha, Bukan Hanya Hasil
Anak akan menghadapi banyak kegiatan baru.
Misalnya, belajar memakai pakaian, menyusun puzzle, menggambar, atau menangkap bola.
Selain itu, anak tidak akan selalu berhasil pada percobaan pertama.
Oleh karena itu, berikan apresiasi terhadap proses dan usaha.
Misalnya, orang tua dapat mengatakan bahwa anak sudah mencoba dengan tekun.
Kemudian, bantu seperlunya jika anak mengalami kesulitan.
Dengan demikian, fokus tidak hanya pada hasil sempurna.
Sebaliknya, anak belajar bahwa mencoba kembali merupakan bagian dari proses belajar.
18. Berikan Aturan yang Sederhana dan Konsisten
Selain kasih sayang, anak juga membutuhkan batasan yang jelas.
CDC memasukkan rutinitas, aturan rumah, serta disiplin yang sesuai tanpa kekerasan sebagai bagian dari praktik pengasuhan positif.
Oleh karena itu, buat aturan sederhana berdasarkan usia anak.
Misalnya, mainan perlu dikembalikan setelah selesai digunakan.
Selain itu, anak tidak boleh memukul orang lain ketika marah.
Kemudian, orang tua sebaiknya menerapkan aturan secara relatif konsisten.
Dengan demikian, anak lebih mudah memahami perilaku yang diharapkan.
Namun, aturan perlu disampaikan menggunakan bahasa yang sesuai kemampuan anak.
19. Bangun Lingkungan Rumah yang Aman untuk Eksplorasi
Anak mempunyai rasa ingin tahu yang besar.
Karena itu, lingkungan rumah sebaiknya memberikan kesempatan eksplorasi sekaligus tetap aman.
Misalnya, benda tajam dan bahan berbahaya disimpan di tempat yang tidak dapat dijangkau anak.
Selain itu, mainan perlu dipilih sesuai usia.
Kemudian, area bermain sebaiknya diperiksa secara berkala.
Dengan lingkungan yang lebih aman, anak dapat bergerak dan bereksplorasi dengan risiko yang lebih terkendali.
Namun, pengawasan orang dewasa tetap diperlukan berdasarkan usia dan jenis aktivitas.
20. Pantau Tumbuh Kembang Secara Berkala
Kebiasaan sehat di rumah perlu dilengkapi dengan pemantauan.
Oleh karena itu, orang tua dapat mencatat pertumbuhan serta kemampuan perkembangan anak.
Selain itu, kunjungan ke Posyandu, Puskesmas, dokter, atau fasilitas kesehatan dapat digunakan untuk memantau berat, panjang atau tinggi badan, serta perkembangan.
Kemudian, orang tua juga dapat menggunakan Buku KIA sebagai panduan.
Namun, milestone perkembangan bukan perlombaan.
Setiap anak dapat berkembang dengan kecepatan yang berbeda.
Meskipun demikian, CDC menyarankan orang tua bertindak lebih awal apabila anak kehilangan keterampilan yang sebelumnya sudah dimiliki, belum mencapai milestone tertentu, atau terdapat kekhawatiran perkembangan.
Karena itu, apabila ada sesuatu yang membuat orang tua khawatir, sebaiknya diskusikan dengan tenaga kesehatan.
Contoh Rutinitas Harian yang Mendukung Tumbuh Kembang
Rutinitas tidak harus rumit.
Sebagai contoh, pagi hari dapat dimulai dengan bangun, membersihkan diri, sarapan, lalu melakukan aktivitas.
Kemudian, anak dapat memperoleh waktu bermain aktif.
Setelah itu, kegiatan dapat dilanjutkan dengan membaca atau bermain kreatif.
Sementara itu, jadwal makan serta tidur dapat dibuat relatif konsisten.
Pada sore hari, anak dapat kembali melakukan aktivitas fisik atau bermain di luar apabila memungkinkan.
Kemudian, malam hari dapat dibuat lebih tenang.
Misalnya, keluarga makan bersama, membersihkan diri, membaca buku, kemudian tidur.
Dengan demikian, dalam satu hari anak mendapatkan kombinasi nutrisi, aktivitas, interaksi, pembelajaran, serta istirahat.
Namun, rutinitas tersebut tidak harus sama pada setiap keluarga.
Sebaliknya, jadwal dapat disesuaikan dengan usia anak serta kebutuhan rumah tangga.
Jangan Berusaha Membuat Setiap Menit Menjadi Pelajaran
Stimulasi memang penting.
Namun, orang tua tidak perlu mengubah setiap aktivitas menjadi sesi belajar formal.
Sebaliknya, perkembangan anak dapat terjadi melalui interaksi alami.
Misalnya, menghitung buah ketika menyiapkan makanan dapat mengenalkan angka.
Selain itu, berjalan di luar rumah dapat di gunakan untuk mengenalkan warna.
Kemudian, membereskan mainan dapat melibatkan pengelompokan serta kemandirian.
Sementara itu, percakapan selama perjalanan dapat mendukung bahasa.
Dengan demikian, banyak kegiatan sehari-hari sudah menyediakan kesempatan belajar tanpa membuat anak merasa terus-menerus di uji.
Konsistensi Lebih Penting daripada Kesempurnaan
Tidak semua hari akan berjalan sesuai rencana.
Kadang-kadang anak tidur lebih terlambat.
Selain itu, jadwal makan atau bermain dapat berubah karena aktivitas keluarga.
Hal tersebut tidak selalu berarti rutinitas gagal.
Sebaliknya, fokuslah pada pola keseluruhan dalam jangka panjang.
Orang tua juga tidak perlu merasa harus melakukan seluruh aktivitas secara sempurna.
UNICEF menekankan pentingnya lingkungan yang penuh kasih, responsif, aman, dan memberikan kesempatan belajar.
Oleh karena itu, hubungan yang hangat serta rutinitas sederhana yang di lakukan secara konsisten dapat menjadi fondasi yang kuat.
Checklist Kebiasaan Harian untuk Tumbuh Kembang Anak
Beberapa kebiasaan berikut dapat digunakan sebagai pengingat:
- Menjaga pola makan sesuai kebutuhan usia.
- Membiasakan minum air putih.
- Memberikan kesempatan bergerak setiap hari.
- Mengajak anak bermain aktif.
- Membaca buku bersama.
- Berbicara dan mendengarkan anak.
- Memberikan waktu bermain bebas.
- Mendukung kemandirian sesuai usia.
- Memberikan kesempatan bersosialisasi.
- Membantu anak mengenali emosi.
- Menjaga jadwal tidur yang konsisten.
- Mengelola penggunaan layar.
- Menjaga rutinitas kebersihan.
- Menciptakan lingkungan rumah yang aman.
- Memberikan aturan sederhana dan konsisten.
- Mengapresiasi usaha anak.
- Memantau pertumbuhan dan perkembangan secara berkala.
Selain itu, kebiasaan tersebut dapat di sesuaikan dengan kondisi keluarga.
Dengan demikian, orang tua tidak harus melakukan semuanya menggunakan cara yang benar-benar sama.
Kesimpulan
Mendukung tumbuh kembang anak tidak selalu membutuhkan program khusus atau aktivitas yang mahal.
Sebaliknya, kebiasaan sederhana yang di lakukan secara rutin dapat memberikan lingkungan yang mendukung pertumbuhan fisik, kemampuan motorik, bahasa, kognitif, sosial, serta emosional.
Pola makan yang sesuai membantu memenuhi kebutuhan nutrisi.
Selain itu, aktivitas fisik memberikan kesempatan anak bergerak dan mengembangkan kemampuan motorik.
Kemudian, membaca, berbicara, bernyanyi, serta bermain dapat menjadi stimulasi bahasa dan pembelajaran.
Sementara itu, responsive caregiving membantu anak mendapatkan interaksi yang hangat dan sesuai dengan sinyal yang mereka berikan.
Selain itu, tidur yang cukup dan relatif teratur juga menjadi bagian penting dari rutinitas sehat.
Kemudian, penggunaan layar perlu di kelola agar tidak menggantikan aktivitas seperti bermain, bergerak, berinteraksi, dan tidur.
Selanjutnya, orang tua dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan aktivitas sederhana secara mandiri.
Namun, seluruh kegiatan tetap perlu di sesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.
Pada akhirnya, tujuan utama bukan membuat setiap hari menjadi sempurna.
Sebaliknya, bangun pola kehidupan keluarga yang sehat, aman, hangat, serta konsisten.
Selain itu, pantau pertumbuhan dan perkembangan anak secara berkala.
Jika anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya telah di miliki atau orang tua mempunyai kekhawatiran mengenai perkembangannya, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Dengan kombinasi nutrisi, tidur, aktivitas fisik, permainan, komunikasi, stimulasi, serta pengasuhan responsif, kebiasaan sehari-hari dapat menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
