Tumbuh Kembang

Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Mendukung Tumbuh Kembang Anak

Setiap orang tua tentu ingin memberikan dukungan terbaik agar anak dapat tumbuh sehat sekaligus berkembang sesuai potensinya.

Namun, dalam proses mendukung tumbuh kembang anak, beberapa kebiasaan yang dilakukan dengan niat baik ternyata belum tentu menjadi pendekatan yang paling tepat.

Sebagai contoh, orang tua mungkin terlalu sering membandingkan kemampuan anak dengan teman seusianya.

Selain itu, sebagian orang tua dapat terlalu berfokus pada kemampuan akademik sehingga waktu bermain, bergerak, dan berinteraksi menjadi berkurang.

Padahal, perkembangan anak mencakup banyak aspek.

Centers for Disease Control and Prevention atau CDC menjelaskan bahwa milestone perkembangan mencakup kemampuan anak dalam bermain, belajar, berbicara, bertindak, dan bergerak.

Selain itu, UNICEF menekankan pentingnya permainan, komunikasi, serta pengasuhan responsif untuk membantu mendukung kemampuan motorik, kognitif-bahasa, dan sosial-emosional anak.

Sementara itu, World Health Organization atau WHO menekankan keseimbangan antara aktivitas fisik, waktu sedentari, serta tidur yang cukup pada anak.

Oleh karena itu, mendukung tumbuh kembang anak sebaiknya tidak hanya berfokus pada satu kemampuan.

Sebaliknya, orang tua perlu menciptakan lingkungan yang aman, hangat, aktif, serta memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar melalui kehidupan sehari-hari.

Berikut beberapa kesalahan yang sering terjadi dan cara menghindarinya.

1. Terlalu Sering Membandingkan Anak dengan Anak Lain

Salah satu kesalahan yang sangat umum adalah membandingkan kemampuan anak dengan saudara, teman, atau anak lain yang seusia.

Misalnya, orang tua merasa khawatir karena anak tetangga sudah dapat melakukan sesuatu lebih dahulu.

Padahal, perkembangan setiap anak dapat mempunyai variasi.

Selain itu, milestone perkembangan bukan perlombaan.

CDC menggunakan milestone sebagai alat untuk membantu keluarga mengikuti perkembangan anak sekaligus membuka percakapan dengan tenaga kesehatan.

Oleh karena itu, fokus utama sebaiknya berada pada perjalanan perkembangan anak sendiri.

Sebaliknya, catat kemampuan baru yang mulai muncul dari waktu ke waktu.

Namun, variasi perkembangan juga bukan alasan untuk mengabaikan kekhawatiran.

Jika terdapat kemampuan yang belum muncul sesuai tahap usia atau anak kehilangan keterampilan yang sebelumnya telah dimiliki, diskusikan dengan tenaga kesehatan.

Dengan demikian, orang tua dapat menghindari perbandingan yang tidak perlu tanpa mengabaikan pemantauan perkembangan.

2. Hanya Memperhatikan Berat dan Tinggi Badan

Pertumbuhan fisik memang penting.

Namun, tumbuh kembang anak tidak dapat dinilai hanya berdasarkan berat dan tinggi badan.

Sebaliknya, kemampuan motorik, komunikasi, sosial, emosional, serta kognitif juga perlu diperhatikan.

Misalnya, orang tua dapat mengamati bagaimana anak berinteraksi dengan orang lain.

Selain itu, perhatikan perkembangan bahasa, kemampuan bermain, gerakan, serta keterampilan sehari-hari.

Oleh karena itu, pemantauan idealnya dilakukan secara menyeluruh.

Pertumbuhan fisik tetap dipantau melalui pengukuran yang sesuai.

Sementara itu, perkembangan dapat diamati melalui kemampuan yang mulai muncul sesuai tahap usia.

Dengan cara tersebut, orang tua memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai perkembangan anak.

3. Memaksa Anak Mencapai Kemampuan Lebih Cepat

Melihat anak berkembang memang menyenangkan.

Namun, keinginan untuk mempercepat perkembangan dapat membuat orang tua memberikan stimulasi yang terlalu berat.

Misalnya, anak dipaksa belajar membaca, menulis, atau berhitung jauh sebelum aktivitas tersebut sesuai dengan kesiapan dan minatnya.

Selain itu, jadwal yang terlalu padat juga dapat mengurangi waktu bermain bebas.

Padahal, permainan mempunyai peran penting dalam perkembangan anak.

UNICEF melalui pendekatan Care for Child Development menekankan penggunaan aktivitas bermain dan komunikasi untuk mendukung kemampuan motorik, kognitif-bahasa, serta sosial-emosional.

Oleh karena itu, stimulasi sebaiknya diberikan sesuai usia dan kemampuan.

Selain itu, kegiatan perlu dibuat menyenangkan.

Jika anak terlihat lelah, frustrasi, atau kehilangan minat, orang tua dapat berhenti sejenak dan mencoba aktivitas lain.

Dengan demikian, proses belajar tidak berubah menjadi tekanan.

4. Menganggap Lebih Banyak Stimulasi Selalu Lebih Baik

Stimulasi memang diperlukan.

Namun, semakin banyak aktivitas belum tentu semakin baik.

Anak juga membutuhkan waktu untuk beristirahat, bermain sendiri, mengeksplorasi, dan mengulang keterampilan yang telah dipelajari.

Oleh karena itu, orang tua tidak perlu mengisi setiap jam dengan kelas atau kegiatan terstruktur.

Sebaliknya, keseimbangan merupakan hal yang penting.

Misalnya, setelah mengikuti aktivitas tertentu, anak dapat memperoleh waktu bermain bebas.

Selain itu, kegiatan sehari-hari juga dapat menjadi stimulasi.

Mengobrol ketika makan dapat membantu perkembangan bahasa.

Kemudian, membereskan mainan dapat melatih kemandirian.

Sementara itu, bermain bola dapat memberikan kesempatan untuk melatih kemampuan motorik.

Dengan demikian, stimulasi tidak harus selalu berbentuk pelajaran formal.

5. Terlalu Mengandalkan Layar sebagai Hiburan

Perangkat digital dapat memberikan hiburan.

Namun, masalah dapat muncul ketika layar menggantikan waktu bermain, bergerak, tidur, atau berinteraksi dengan keluarga.

WHO menekankan pentingnya membatasi aktivitas sedentari berbasis layar pada anak kecil.

Untuk anak usia satu tahun, WHO tidak merekomendasikan sedentary screen time.

Sementara itu, untuk usia dua tahun serta tiga sampai empat tahun, WHO menyarankan waktu layar sedentari tidak lebih dari satu jam per hari, dan lebih sedikit dinilai lebih baik.

Selain itu, WHO mendorong aktivitas tenang berkualitas seperti membaca dan bercerita bersama pengasuh.

Oleh karena itu, penggunaan layar sebaiknya tidak menjadi aktivitas utama sepanjang hari.

Sebaliknya, kombinasikan waktu anak dengan bermain aktif, membaca, berbicara, menggambar, dan berinteraksi.

6. Kurang Memberikan Kesempatan Anak Bergerak

Sebagian orang tua mungkin terlalu fokus pada aktivitas belajar sambil duduk.

Padahal, anak juga membutuhkan banyak kesempatan untuk bergerak.

WHO merekomendasikan anak usia satu sampai dua tahun mendapatkan sedikitnya 180 menit berbagai aktivitas fisik yang tersebar sepanjang hari.

Selain itu, anak usia tiga sampai empat tahun juga dianjurkan aktif setidaknya 180 menit, dengan sedikitnya 60 menit berupa aktivitas intensitas sedang hingga berat.

Sementara itu, anak dan remaja usia 5–17 tahun dianjurkan mendapatkan rata-rata sedikitnya 60 menit aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat setiap hari sepanjang minggu.

Namun, aktivitas fisik tidak harus berupa olahraga formal.

Sebaliknya, bermain bola, berlari, menari, melompat, berjalan, atau bersepeda dapat menjadi pilihan.

Karena itu, jangan membuat anak terus-menerus duduk hanya demi kegiatan akademik.

7. Mengabaikan Waktu Tidur Anak

Tidur terkadang dianggap hanya sebagai waktu istirahat.

Padahal, tidur merupakan bagian dari pola hidup sehat anak.

WHO merekomendasikan tidur berkualitas sesuai kelompok usia.

Misalnya, anak usia satu sampai dua tahun membutuhkan sekitar 11–14 jam tidur dalam 24 jam, termasuk tidur siang.

Sementara itu, anak usia tiga sampai empat tahun membutuhkan sekitar 10–13 jam.

Selain jumlah tidur, waktu tidur dan bangun yang relatif konsisten juga penting.

Oleh karena itu, jangan membiasakan anak tidur terlalu larut tanpa alasan yang jelas.

Sebaliknya, bangun rutinitas sebelum tidur.

Misalnya, membersihkan diri, mengganti pakaian, membaca buku, kemudian tidur.

Selain itu, kurangi aktivitas yang terlalu merangsang menjelang waktu tidur.

Dengan demikian, anak lebih mudah mengenali rutinitas malam.

8. Kurang Mengajak Anak Berbicara

Bahasa berkembang melalui interaksi.

Oleh karena itu, hanya memberikan mainan atau tontonan belum menggantikan percakapan langsung dengan orang tua.

UNICEF menekankan pentingnya komunikasi dalam mendukung perkembangan kognitif-bahasa dan sosial-emosional.

Karena itu, ajak anak berbicara sejak kecil.

Untuk bayi, orang tua dapat membalas suara atau ekspresi wajah.

Kemudian, ketika anak lebih besar, percakapan dapat dilakukan mengenai aktivitas sehari-hari.

Misalnya, tanyakan apa yang dimainkan.

Selain itu, ajak anak menceritakan gambar yang dilihat dalam buku.

Sementara itu, jangan terlalu cepat menjawab semua pertanyaan untuk anak.

Berikan waktu agar ia mencoba mengungkapkan pikirannya sendiri.

9. Jarang Membacakan Buku

Membacakan buku bukan hanya aktivitas untuk mengajarkan anak membaca.

Sebaliknya, kegiatan tersebut juga memberikan kesempatan untuk berbicara, mendengar, melihat gambar, dan berinteraksi.

WHO bahkan menyebut membaca serta bercerita bersama pengasuh sebagai contoh aktivitas sedentari non-layar yang berkualitas.

Oleh karena itu, orang tua dapat menjadikan membaca sebagai kebiasaan.

Tidak perlu berlangsung sangat lama.

Sebaliknya, beberapa menit yang dilakukan secara rutin sudah dapat menjadi aktivitas keluarga yang menyenangkan.

Selain itu, biarkan anak memilih buku yang disukai.

Kemudian, diskusikan gambar dan cerita di dalamnya.

Dengan demikian, membaca menjadi pengalaman interaktif.

10. Terlalu Banyak Membantu Anak

Ketika melihat anak kesulitan, orang tua secara alami ingin membantu.

Namun, apabila seluruh aktivitas selalu langsung dilakukan oleh orang tua, anak kehilangan kesempatan untuk mencoba.

Misalnya, anak mungkin membutuhkan waktu lebih lama saat memakai sepatu atau membereskan mainan.

Namun, proses tersebut merupakan bagian dari pembelajaran.

Oleh karena itu, berikan kesempatan anak mencoba terlebih dahulu.

Kemudian, bantu jika memang diperlukan.

Selain itu, sesuaikan tugas berdasarkan usia.

Anak kecil dapat mulai dari menyimpan mainan.

Sementara itu, anak yang lebih besar dapat memperoleh tanggung jawab sederhana lainnya.

Dengan demikian, bantuan orang tua tetap tersedia tanpa menghilangkan kesempatan belajar mandiri.

11. Menuntut Anak Selalu Berhasil

Belajar membutuhkan proses mencoba.

Karena itu, anak pasti akan mengalami kegagalan kecil.

Misalnya, bangunan balok dapat roboh.

Kemudian, puzzle mungkin tidak langsung selesai.

Selain itu, anak mungkin belum berhasil menangkap bola pada percobaan pertama.

Kesalahan orang tua adalah terlalu cepat memperbaiki hasil atau menunjukkan kekecewaan.

Sebaliknya, berikan ruang untuk mencoba kembali.

Kemudian, apresiasi usaha anak.

Dengan demikian, anak dapat memahami bahwa kesalahan merupakan bagian normal dari proses belajar.

Selain itu, orang tua dapat memberikan bantuan secara bertahap apabila anak benar-benar membutuhkannya.

12. Terlalu Fokus pada Mainan Berlabel “Edukatif”

Label edukatif tidak otomatis membuat suatu mainan lebih bermanfaat.

Sebaliknya, nilai permainan sering kali ditentukan oleh cara anak berinteraksi dengan benda tersebut.

Balok sederhana, kardus, kertas, krayon, bola, atau boneka dapat menghasilkan banyak aktivitas.

Selain itu, orang tua dapat ikut berbicara dan bermain.

UNICEF menekankan bahwa permainan dan komunikasi bersama pengasuh dapat digunakan untuk menstimulasi perkembangan anak.

Oleh karena itu, tidak perlu selalu membeli perangkat yang mahal atau rumit.

Sebaliknya, pilih permainan yang aman, sesuai usia, serta memberikan ruang bagi anak untuk berpikir dan berimajinasi.

13. Kurang Memberikan Waktu Bermain Bebas

Kegiatan yang terstruktur memang memiliki manfaat.

Namun, anak juga perlu mendapatkan kesempatan menentukan permainan sendiri.

Misalnya, anak dapat membuat rumah dari balok.

Kemudian, beberapa menit kemudian rumah tersebut dapat berubah menjadi garasi.

Selain itu, kardus dapat berubah menjadi mobil atau kapal berdasarkan imajinasi.

Permainan bebas memungkinkan anak membuat keputusan sendiri.

Karena itu, jangan mengatur seluruh permainan berdasarkan keinginan orang dewasa.

Sebaliknya, sesekali ikuti arah permainan anak.

Dengan demikian, orang tua menjadi teman bermain tanpa selalu mengambil alih.

14. Mengabaikan Respons Emosional Anak

Tumbuh kembang anak bukan hanya mengenai kemampuan motorik dan akademik.

Sebaliknya, perkembangan sosial dan emosional juga mempunyai peran penting.

Oleh karena itu, jangan mengabaikan perasaan anak.

Misalnya, ketika anak sedih, orang tua dapat membantu menyebutkan emosinya.

Selain itu, ketika anak frustrasi, orang tua dapat membantu menenangkan situasi.

UNICEF menekankan responsive caregiving, yaitu kemampuan pengasuh untuk memperhatikan, memahami, serta merespons sinyal anak secara tepat.

Dengan demikian, interaksi sehari-hari dapat membantu membangun hubungan yang hangat antara anak dan pengasuh.

15. Mengharapkan Anak Bisa Mengatur Emosi seperti Orang Dewasa

Anak masih belajar memahami emosi.

Oleh karena itu, jangan berharap anak kecil selalu dapat menenangkan dirinya dengan cara yang sama seperti orang dewasa.

Sebaliknya, orang tua dapat membantu memberikan contoh.

Misalnya, bantu anak mengambil jeda ketika mulai marah.

Kemudian, ajak anak menyebutkan apa yang dirasakannya.

Selain itu, aturan tetap dapat diberikan.

Memahami emosi anak bukan berarti seluruh perilaku harus diperbolehkan.

Sebaliknya, orang tua dapat menerima perasaan sambil tetap menetapkan batas yang aman.

16. Tidak Memberikan Rutinitas yang Cukup Konsisten

Rutinitas membantu anak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.

Oleh karena itu, jadwal makan, bermain, mandi, dan tidur dapat dibuat relatif konsisten.

Namun, konsisten tidak berarti kaku.

Kegiatan keluarga tentu dapat berubah.

Sebaliknya, tujuan utama adalah menciptakan pola yang dapat dikenali anak.

Misalnya, sebelum tidur selalu ada kegiatan tenang.

Selain itu, mainan dibereskan setelah selesai digunakan.

Kemudian, waktu makan dilakukan tanpa terburu-buru jika memungkinkan.

Dengan demikian, anak memperoleh struktur sekaligus tetap memiliki fleksibilitas.

17. Menggunakan Milestone sebagai Alat Diagnosis Sendiri

Checklist milestone sangat berguna.

Namun, CDC menegaskan bahwa checklist tersebut bukan pengganti alat skrining perkembangan yang terstandar dan tervalidasi.

Oleh karena itu, orang tua sebaiknya tidak menggunakan satu checklist internet untuk mendiagnosis kondisi tertentu.

Sebaliknya, milestone dapat digunakan untuk memantau kemampuan dan membantu percakapan dengan tenaga kesehatan.

Jika terdapat kekhawatiran, catat kemampuan yang belum muncul.

Kemudian, sampaikan informasi tersebut ketika berkonsultasi.

Dengan demikian, checklist menjadi alat komunikasi, bukan alat diagnosis mandiri.

18. Menganggap Anak Akan “Nanti Bisa Sendiri” ketika Ada Kekhawatiran

Setiap anak memang berkembang dengan kecepatannya masing-masing.

Namun, menunggu terlalu lama ketika terdapat tanda yang membuat orang tua khawatir juga bukan pendekatan terbaik.

CDC secara tegas menyarankan keluarga untuk bertindak lebih awal ketika anak belum mencapai satu atau lebih milestone sesuai usia, kehilangan kemampuan yang pernah dimiliki, atau terdapat kekhawatiran mengenai cara anak bermain, belajar, berbicara, bertindak, atau bergerak.

Selain itu, intervensi dini dapat membantu anak mempelajari kemampuan baru dan umumnya lebih efektif ketika di mulai lebih awal.

Oleh karena itu, jangan takut di anggap berlebihan ketika ingin berkonsultasi.

Sebaliknya, sampaikan kekhawatiran dengan jelas kepada dokter atau tenaga kesehatan.

19. Menunda Konsultasi karena Takut Mendengar Hasilnya

Sebagian orang tua mungkin menyadari adanya perubahan perkembangan, tetapi menunda berkonsultasi karena khawatir.

Padahal, konsultasi tidak otomatis berarti anak mempunyai masalah tertentu.

Sebaliknya, tenaga kesehatan dapat membantu menentukan apakah perkembangan masih berada dalam variasi yang dapat di harapkan atau membutuhkan pemeriksaan lanjutan.

CDC menyarankan orang tua membicarakan kekhawatiran perkembangan dengan dokter serta menanyakan skrining perkembangan jika di perlukan.

Selain itu, orang tua dapat membawa catatan milestone yang sudah diamati.

Dengan demikian, informasi yang di berikan menjadi lebih jelas.

20. Menganggap Dukungan Tumbuh Kembang Anak Harus Mahal

Kegiatan sederhana sering mempunyai nilai yang besar.

Bermain, berbicara, bernyanyi, membaca, berjalan, menggambar, serta membantu pekerjaan sederhana dapat menjadi bagian dari stimulasi sehari-hari.

UNICEF melalui Care for Child Development menekankan aktivitas bermain dan komunikasi sebagai bagian penting dari dukungan perkembangan anak.

Oleh karena itu, orang tua tidak harus membeli banyak kelas atau mainan mahal.

Sebaliknya, kehadiran serta respons orang tua dalam kegiatan sehari-hari mempunyai nilai penting.

Misalnya, kotak kardus dapat menjadi bahan permainan imajinatif.

Kemudian, kegiatan memasak dapat menjadi kesempatan mengenalkan nama makanan.

Selain itu, perjalanan ke taman dapat menjadi kesempatan berbicara mengenai tanaman dan lingkungan.

Dengan demikian, banyak stimulasi dapat di lakukan menggunakan aktivitas yang sudah ada.

Cara Mendukung Tumbuh Kembang Anak dengan Lebih Seimbang

Setelah memahami berbagai kesalahan tersebut, orang tua dapat menggunakan pendekatan yang lebih sederhana.

Pertama, pantau pertumbuhan serta perkembangan secara berkala.

Kemudian, berikan makanan sesuai kebutuhan usia dan kondisi anak.

Selain itu, sediakan waktu bermain aktif setiap hari.

Selanjutnya, jaga pola tidur yang relatif konsisten.

Kemudian, luangkan waktu untuk berbicara dan membacakan buku.

Selain itu, berikan kesempatan anak mencoba melakukan aktivitas sendiri.

Selanjutnya, berikan respons yang hangat ketika anak berkomunikasi atau menunjukkan emosi.

Namun, orang tua tidak perlu mengejar kesempurnaan.

Sebaliknya, konsistensi dalam kebiasaan sederhana lebih realistis untuk dilakukan dalam jangka panjang.

Checklist untuk Orang Tua

Beberapa pertanyaan berikut dapat di gunakan untuk mengevaluasi rutinitas keluarga:

  • Apakah anak mempunyai waktu bermain setiap hari?
  • Apakah anak mempunyai kesempatan bergerak aktif?
  • Apakah waktu layar tidak menggantikan tidur dan interaksi?
  • Apakah anak mendapatkan waktu tidur yang sesuai?
  • Apakah orang tua sering berbicara dengan anak?
  • Apakah anak mendapatkan kesempatan melihat atau membaca buku?
  • Apakah anak dapat mencoba melakukan tugas sederhana sendiri?
  • Apakah orang tua menghargai usaha, bukan hanya hasil?
  • Apakah anak mempunyai kesempatan bermain bebas?
  • Apakah perasaan anak didengarkan?
  • Apakah rutinitas keluarga cukup konsisten?
  • Apakah perkembangan anak dipantau secara berkala?
  • Apakah orang tua menghindari perbandingan berlebihan?
  • Apakah kekhawatiran perkembangan dibicarakan dengan tenaga kesehatan?
  • Apakah milestone digunakan sebagai panduan, bukan diagnosis?

Dengan checklist tersebut, orang tua dapat melihat bagian mana yang sudah berjalan baik.

Selain itu, perubahan tidak harus dilakukan sekaligus.

Sebaliknya, pilih satu atau dua kebiasaan terlebih dahulu kemudian lakukan secara konsisten.

Kesimpulan

Mendukung tumbuh kembang anak membutuhkan keseimbangan antara stimulasi, permainan, aktivitas fisik, tidur, komunikasi, dan pengasuhan yang responsif.

Oleh karena itu, orang tua sebaiknya tidak terlalu fokus pada satu kemampuan tertentu.

Selain itu, hindari membandingkan anak secara berlebihan.

Kemudian, jangan memaksakan stimulasi yang terlalu berat hanya karena ingin anak mencapai kemampuan lebih cepat.

Sementara itu, waktu layar perlu di kelola agar tidak menggantikan bermain, bergerak, berbicara, membaca, dan tidur.

Selain itu, berikan anak kesempatan mencoba aktivitas sederhana secara mandiri.

Kemudian, dampingi proses belajar tanpa menuntut hasil yang selalu sempurna.

Selanjutnya, perhatikan pula aspek sosial dan emosional.

Dengarkan anak, bantu mengenali perasaannya, serta berikan respons yang hangat.

Namun, salah satu kesalahan yang paling penting untuk dihindari adalah menunda mencari bantuan ketika terdapat kekhawatiran perkembangan.

CDC menyarankan keluarga bertindak lebih awal apabila anak tidak mencapai milestone tertentu, kehilangan kemampuan yang sebelumnya di miliki, atau terdapat kekhawatiran mengenai perkembangan.

Karena itu, milestone dapat di gunakan untuk memantau perkembangan serta membantu percakapan dengan tenaga kesehatan.

Namun, checklist tersebut tidak digunakan untuk membuat diagnosis sendiri.

Pada akhirnya, tidak ada orang tua yang dapat menjalankan seluruh rutinitas secara sempurna setiap hari.

Sebaliknya, tujuan yang lebih realistis adalah menciptakan lingkungan yang aman, responsif, menyenangkan, dan konsisten.

Dengan komunikasi, permainan, aktivitas fisik, istirahat, nutrisi, serta perhatian terhadap milestone yang di lakukan secara seimbang, orang tua dapat memberikan dukungan yang lebih baik bagi perjalanan tumbuh kembang anak.

Anda mungkin juga suka...